Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali disibukkan dengan berbagai urusan. Mulai dari bekerja mencari nafkah, mengurus keluarga, hingga mengejar berbagai target yang ingin dicapai. Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar yang dianjurkan dalam Islam. Namun, di tengah kesibukan tersebut, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri, bekal apa yang sedang kita persiapkan untuk kehidupan setelah dunia ini?
Kini kita kembali memasuki bulan Safar. Pergantian bulan dalam kalender Hijriah bisa menjadi pengingat bahwa usia kita pun terus berkurang. Setiap hari yang berlalu adalah kesempatan yang Allah berikan untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal kebaikan. Oleh karena itu, bulan Safar dapat kita jadikan sebagai momentum untuk bermuhasabah. Bukan karena bulan ini memiliki amalan khusus yang diwajibkan, melainkan sebagai pengingat agar kita kembali melihat perjalanan hidup yang telah dilalui. Sudahkah waktu yang Allah berikan kita isi dengan sesuatu yang bernilai di sisi-Nya?
Amal Shalih, Bekal yang Tidak Akan Pernah Hilang
Setiap orang tentu memiliki rencana untuk masa depan. Ada yang menabung demi pendidikan anak, membeli rumah, mengembangkan usaha, atau mempersiapkan masa pensiun. Semua itu adalah hal yang baik selama dilakukan dengan cara yang halal. Namun, seorang muslim juga memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu kehidupan di akhirat. Oleh karena itulah, selain menyiapkan bekal dunia, kita juga perlu menyiapkan bekal yang akan menemani ketika kembali kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman,
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Islam tidak memerintahkan umatnya meninggalkan urusan dunia. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk bekerja, berusaha, dan memberikan yang terbaik. Namun, semua itu hendaknya menjadi jalan untuk meraih ridha Allah dan kebahagiaan di akhirat.
Lalu, apa bekal terbaik yang dapat kita persiapkan?
Jawabannya adalah amal shalih.
Amal shalih tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Terkadang, hal-hal sederhana yang dilakukan dengan niat yang ikhlas justru memiliki nilai yang besar di sisi Allah SWT. Menjaga salat lima waktu, membaca Al-Qur’an setiap hari, membantu orang tua, menolong tetangga, menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti, hingga menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang membutuhkan, semuanya termasuk amal shalih. Setiap kebaikan yang dilakukan karena Allah akan menjadi bekal yang tidak akan pernah sia-sia.
Harta Akan Habis, Amal Akan Tetap Tinggal
Sering kali manusia merasa aman ketika memiliki tabungan yang cukup atau pekerjaan yang mapan. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan. Suatu saat nanti, rumah yang kita bangun akan ditinggalkan. Kendaraan yang kita miliki akan berpindah tangan. Jabatan yang kita banggakan akan berakhir. Bahkan orang-orang yang kita cintai pun tidak akan selalu bersama kita. Yang akan tetap menyertai hanyalah amal yang pernah kita lakukan.
Rasulullah SAW bersabda,
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa ada amal yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia. Inilah yang disebut sebagai investasi terbaik bagi seorang muslim. Karena itu, jangan merasa bahwa kebaikan yang kita lakukan hari ini adalah sesuatu yang kecil. Bisa jadi, sedekah yang kita keluarkan, mushaf Al-Qur’an yang kita wakafkan, atau bantuan yang kita berikan kepada mereka yang membutuhkan menjadi sebab datangnya pahala yang terus mengalir hingga akhir hayat.
Jadikan Bulan Safar sebagai Waktu untuk Muhasabah
Di tengah masyarakat masih ada anggapan bahwa bulan Safar identik dengan kesialan atau musibah. Padahal, keyakinan seperti itu tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Bagi seorang muslim, semua waktu adalah ciptaan Allah SWT. Tidak ada bulan yang membawa sial. Yang seharusnya kita lakukan adalah memperbanyak tawakal kepada Allah dan terus berusaha melakukan kebaikan.
Memasuki bulan Safar mari kita gunakan kesempatan ini untuk bermuhasabah, cobalah bertanya kepada diri sendiri.
Apakah salat kita sudah lebih baik dibanding bulan-bulan sebelumnya?
Sudahkah Al-Qur’an menjadi teman dalam keseharian kita?
Sudahkah kita menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu saudara-saudara yang membutuhkan?
Ataukah kita masih lebih sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa memperbaiki hubungan dengan Allah?
Muhasabah bukan untuk menyalahkan diri sendiri. Muhasabah adalah cara agar kita menyadari kekurangan, kemudian berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, berarti pintu taubat dan pintu amal masih terbuka.
Jangan Menunggu Esok untuk Berbuat Baik
Salah satu kebiasaan yang sering menghambat seseorang dalam beramal adalah menunda.
“Kalau nanti sudah mapan, saya akan lebih banyak bersedekah.”
“Kalau nanti sudah punya waktu, saya akan lebih rajin membaca Al-Qur’an.”
Padahal, tidak ada yang tahu apakah hari esok masih menjadi milik kita. Oleh karena itu, jangan menunggu memiliki banyak untuk mulai berbagi. Tidak perlu menunggu sempurna untuk melakukan kebaikan. Amal yang dilakukan secara istiqamah, meskipun sedikit, lebih dicintai Allah daripada amal yang besar tetapi hanya sesekali dilakukan.
Mulailah dari hal-hal sederhana. Menyapa dengan ramah, membantu orang lain, memperbanyak istighfar, bersedekah sesuai kemampuan, atau ikut mendukung program-program yang memberi manfaat bagi masyarakat. Setiap amal yang dilakukan dengan ikhlas akan bernilai di sisi Allah SWT.
Dunia hanyalah tempat singgah. Sebaik apa pun kehidupan yang kita jalani hari ini, semuanya akan sampai pada akhirnya. Yang akan menjadi teman dalam perjalanan menuju akhirat bukanlah harta maupun kedudukan, melainkan amal shalih yang diterima oleh Allah SWT. Semoga memasuki bulan Safar ini menjadi pengingat bagi kita untuk lebih banyak bermuhasabah, memperbaiki ibadah, mempererat kepedulian kepada sesama, dan memperbanyak amal yang bermanfaat.
Mari manfaatkan setiap kesempatan yang Allah berikan untuk menanam kebaikan. Sebab kita tidak pernah tahu, amal sederhana yang kita lakukan hari ini bisa menjadi bekal terbaik ketika kelak menghadap-Nya.
Wallahu a’lam bishawab.